Sunday, 11 March 2012

SEJARAH SINGKAT KOTA LUBUKLINGGAU

SEJARAH SINGKAT KOTA LUBUKLINGGAU
         Tahun 1929 status Lubuklinggau adalah sebagai Ibu Kota Marga Sindang Kelingi Ilir, dibawah Onder District Musi Ulu. Onder District Musi Ulu sendiri ibu kotanya adalah Muara Beliti.Tahun 1933 Ibukota Onder District Musi Ulu dipindah dari Muara Beliti ke Lubuklinggau. Tahun 1942-1945 Lubuklinggau menjadi Ibukota Kewedanaan Musi Ulu dan dilanjutkan setelah kemerdekaan. Pada waktu Clash I tahun 1947, Lubuklinggau dijadikan Ibukota Pemerintahan Propinsi Sumatera Bagian Selatan. Tahun 1948 Lubuklinggau menjadi Ibukota Kabupaten Musi Ulu Rawas dan tetap sebagai Ibukota Keresidenan Palembang. Pada tahun 1956 Lubuklinggau menjadi Ibukota Daerah Swatantra Tingkat II Musi Rawas. Tahun 1981 dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 tanggal 30 Oktober 1981 Lubuklinggau ditetapkan statusnya sebagai Kota Administratif. Tahun 2001 dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2001 tanggal 21 Juni 2001 Lubuklinggau statusnya ditingkatkan menjadi Kota. Pada tanggal 17 Oktober 2001 Kota Lubuklinggau diresmikan menjadi Daerah Otonom. Pembangunan Kota Lubuklinggau telah berjalan dengan pesat seiring dengan segala permasalahan yang dihadapinya dan menuntut ditetapkannya langkah-langkah yang dapat mengantisipasi perkembangan Kota, sekaligus memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Untuk itu diperlukan Manajemen Strategis yang diharapkan dapat mengelola dan mengembangkan Kota Lubuklinggau sebagai kota transit ke arah yang lebih maju menuju Kota Metropolitan. Kota Lubuklinggau terletak pada posisi geografis yang sangat strategis yaitu di antara provinsi Jambi, Provinsi Bengkulu serta ibu kota provinsi Sumatera Selatan (Palembang) dan merupakan jalur penghubung antara Pulau Jawa dengan kota-kota bagian utara Pulau Sumatera.

          Referensi http://disbudpar.lubuklinggau.go.id

Monday, 24 October 2011

Sejarah Vespa Congo



Perang yang berkecamuk di benua Afrika dalam dekade 1960'an memberikan dampak yang irasional terhadap popularitas Vespa khususnya di tanah air tercinta ini. Sebagai bagian dari kepedulian Bangsa Indonesia terhadap perdamaian dunia, maka setelah berakhirnya Perang Congo (negara ini beberapa kali berganti nama Congo, Zaire, Congo) tanggal 31 Juli 1960 PBB mendaulat Republik Indonesia untuk mengirimkan pasukannya guna menjadi bagian dari pasukan penjaga perdamaian di Negara Congo. Wujud kepedulian yang tinggi atas perdamaian dimuka bumi, Bangsa Indonesia mengutus pasukan terbaiknya ke Congo dengan sandi Pasukan Garuda Indonesia melalui beberapa kali pendaratan.

Setelah tugas sebagai pasukan penjaga perdamaian diselesaikan, Pasukan Garuda Indonesia menerima tanda penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia, dimana salah satunya berupa Vespa (dari beberapa sumber mengatakan bahwa dalam pemberian itu juga ada yang berbentuk uang dan beberapa peti jarum jahit). Terlihat disini Vespa sesungguhnya telah mengikat kita (para scooteris) dengan bangsa kita dalam kancah internasional, walaupun tidak pernah tertulis dalam tinta emas sejarah republik ini.

Menarik disimak bahwa penghargaan Vespa tersebut juga tidak terlepas dari tradisi dalam dunia kemiliteran. Beberapa sumber mengatakan bahwa untuk Vespa yang berwarna hijau 150 cc ditujukan bagi tentara yg lebih tinggi tingkat kepangkatannya, sementara yang berwarna kuning dan biru 125 cc untuk tingkat kepangkatan yang lebih rendah. Selain itu guna melengkapi jati diri atas Vespa dimaksud juga di sematkan tanda nomor prajurit yang bersangkutan, pada sisi sebelah kiri handlebar (stang) yang berbentuk oval terbuat dari bahan kuningan serta sebuah piagam penghargaan yang menyertainya.
Setelah itu maka pada tahun-tahun tersebut ramailah Vespa dengan sebutan Vespa Congo berseliweran di jalan-jalan, sebuah Vespa baru yang menambah tipe Vespa sebelumnya telah hadir. Kondisi ini ternyata juga memberikan dampak positif bagi penjualan Vespa di tanah air saat itu. Vespa Congo yang berbentuk bulat telah memberikan konstribusi berupa iklan gratis bagi importir Vespa di Indonesia. Perkembangan ini kemudian menimbulkan semacam stigma disini bahwa Vespa yg berbentuk bulat ya…Vespa Congo.

Seiring dengan perjalanan waktu maka mulailah sebuah evolusi kepunahan atas Vespa Congo di tanah air terjadi. Banyak sebab yang menjadikan hal tersebut terjadi, seperti telah dijualnya Vespa dimaksud oleh pemilik aslinya atau ada beberapa bagian yang rusak berat sehingga sangat sulit untuk diperbaiki. Hal ini mengingat terbatasnya jumlah Vespa jenis tersebut yang disebabkan keberadaannya juga sangat signifikan dengan jumlah tentara kita yang menerima. Tidak demikian halnya dengan Vespa jenis lain yang masih banyak diproduksi walaupun oleh rumah produksi lokal.
Dengan kondisi tersebut di atas maka Vespa Congo mulai masuk daftar sebagai salah satu The Most Wanted Vespa in Indonesia, yang dijadikan tunggangan scooteris maupun sebagai barang koleksi bagi kolektor Vespa.

Apa jadinya yaaaa … Seandainya Indonesia tidak pernah mengirimkan pasukan misi Perdamaian PBB/Kontingen Garuda II ke Congo mulai dari 25 Desember 1960. [baca: Democratic Republic of Congo]
PASTIlah Scuter/Vespa Congo akan bernama lain dan mungkin saja namanya menjadi Vespa Uganda atau Vespa Kenya. Di Indonesia Scooter atau Vespa Congo sudah terbilang kenderaan antik dan diminati hampir semua lapisan masyarakat tua muda yang kemudian semakin cukup populer dengan terbentuknya I.V.C.I Ikatan Vespa Congo Indonesia yang tersebar hampir disemua propinsi di tanah air.
Kali pertama saya menerima penugasan ke DR.Congo yang terlintas adalah pastilah akan saya temui banyaknya Vespa Congo di Kinshasa (kebetulan saya penggemar &punya 1 unit Scooter keluaran tahun 1966 yang sudah saya modifikasi).
Ternyata saya keliru 1 tahun sudah berlalu ……. Tidak ada satupun kendaraan Vespa Piaggio/Congo yang saya temukan sampai saat ini di kota Kinshasa.
Akhirnya rasa ingin tau pun mencoba bergerilya menembus lapisan dinding baja lemari arsif seputar lorong lorong tersembunyi & rahasia di gedung UN/Monuc di Kinshasa. Ku mencoba bertanya kesana dan kemari .. menguak tabir misteri Scooter/Vespa Congo yang tersebar banyak di Indonesia eeehhh.
Ternyata ……… Menjelang selesainya misi Perdamaian Kontingen Garuda Indonesia I tahun 1957 para rekan TNI kita yang bertugas di Congo mendapat tawaran secara kolektif dari UN apakah berminat untuk membawa Scooter/Vespa made in Italy, oleh UN penawaran ini difasilitasi secara nasional/direct shipment yang tentunya dibayar melalui potongan Allowance.
Dengan demikian sejarah sudah mencatat dan tidak perlu dipungkiri bahwa kali perdana Vespa kecil mungil tersebut hadir di Indonesia dibawa sebagai kenang-kenangan oleh TNI kita yang bertugas di Congo maka dengan mudahnya saja Rakyat Indonesia memberi nama Vespa Congo…..sampai saat ini nama tersebut terus melekat dalam dunia automotive Indonesia.
Dan dalam proses zaman Vespa ini kemudian berkembang dengan segala model memenuhi tuntutan permintaan pasar dunia, Vespa Congo pun semakin banyak masuk ke Indonesia melalui PT. EK Toedjuh yang ditunjuk sebagai agent resmi di Indonesia.
Kalau kemudian saat ini kita membuat perbandingan, dulu TNI kita hanya membawa Sebuah Vespa Congo sebagai kenang kenangan bertugas, lalu paraTNI/MILOBS/KONGA yang bertugas di DR.Congo saat ini BAWA APA yaaa mas….. paling tidak 3 unit Mobil Avanza pasti terbelilah…2 unit buat disewa-sewakan & 1 unit buat dipakai ngantor mas eeehhh. Sayangnya saat ini UN tidak memfasilitasi lagi penawaran BAWA mobil dari Congo,kalau tidak sejarah akan terulang ada Mobil Congo di Indonesia eeehhh.
Demikian…… mistery Vespa Congo sudah terkuak dengan jelas, tak ada lagi dusta diantara kita khususnya sesama penggemar Vespa Congo Indonesia jangan ragukan kalau sejarah nama tersebut terkait erat sangat dengan misi perdamaian PBB.

SALAM PERSAHABATAN

Wahai sahabatku vespa dimanapun kau berada...
pada mulanya ku tak bisa berbuat apa-apa...
kubingung sendiri mo ngotak-ngatik apa....
kutanya...tapi ku tak mengerti apa-apa...

kubingung...ku merenung...kumenanti sebuah jawaban....
disini ku menemukan arti sebuah persahabatan...
hingga waktu berjalan sampai saat ini....

di vespa kutemukan kesabaran...
disini kubelajar kesabaran dijalan..
mental diuji tuk sabar
hingga akhirnya..........

kutemukan kembali rasa persaudaraan disini....
bisa merubah sesuatu menjadi indah pada akhirnya...

Touring Bengkulu